I actually don't think something like perfection exists,
that is i think why we are born able to absorb things,..
and by comparing ourselves with something else, we can finally head in a good direction.

Sabtu, 26 November 2011

makna kata Alhamdulillah


makna kata الْحَمْدُ لِلّهِ - Alhamdulillah

bersujud kepada Allah
bersujud sepanjang waktu
setiap nafasmu seluruh hidupmu
semoga diberkahi Allah

bersabar taat pada Allah
menjaga keikhlasanNya
semoga dirimu semoga langkahmu
diiringi oleh rahmatNya

setiap nafasmu seluruh hidupmu
semoga diberkahi Allah

alhamdulillah wasyukurillah
bersyukur pada Mu ya Allah
indah dalam kebersamaan
hilanglah sebuah perbedaan


kata الْحَمْدُ لِلّهِ - Alhamdulillah artinya : segala kesyukuran / pujian hanya bagi Allah Ta 'ala , atas segala karunia yang dilimpahkan kepada para hamba-Nya yang tidak terhitung jumlahnya seperti kesehatan jiwa dan raga sehingga dapat menunaikan kewajiban kewajiban,

berbagai macam bentuk rezeki dan kenikmatan di dunia, bahkan dijanjikan kenikmatan yang abadi di akhirat bagi yang menaati-Nya, mad segala puji bagi Allah Ta 'ala atas segalanya.

Penakwilan ini sesuai dengan sejumlah riwayat yang ada dari Ibnu Abbas dan yang lainnya :

1. Muhammad bin 'Ala' menceritakan kepada kami, katanya, Utsman bin Sa'id menceritakan kepada kami, katanya, Basyar bin Immarah menceritakan kepada kami, katanya, Abu Rauq menceritakan kepada kami dari Adh-Dhahak, dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Jibril berkata kepada Muhammad SAW, Wahai Muhammad. ucapkanlah. Alhamdulillah'
Ibnu Abbas berkata, Alhamdulillah artinya bersyukur kepada Allah dan mengakui segala kenikmatan-Nya, petunjuk-Nya dan lain sebagainya'."

2. Sa'id bin Amru As-Sukuni menceritakan kepadaku, katanya, Baqiyah bin Al Wa1id menceritakan kepada kami, katanya, Isa bin Ibrahim menceritakan kepadaku dari Musa bin Abi Habib dari Al Hakam bin Umair —seorang sahabat—, ia menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلّهِ , فَقَدْ شَكَرْتَ اللّهَ فَزَادَكَ
"Jika engkau mengucapkan; segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, berarti engkau telah bersyukur kepada-Nya dan Dia akan menambahmu”

Ia berkata, "Ada pendapat yang mengatakan bahwa perkataan alhamdulillah adalah pujian kepada Allah atas nama dan sifat-Nya yang mulia,

sedang perkataan asy-syukru lillah adalah pujian kepada Allah atas nikmat dan karunia-Nya. Dan telah diriwayatkan dan Ka'b Al Ahbar bahwa ia berkata, "Alhamdulillah adalah pujian atas Allah, dan tidak dijelaskan dalam riwayat tersebut makna pujian yang mana."

3. Yunus bin Abdul A'la Ash-Shadafi menceritakan kepada kami, katanya, Ibnu Wahb memberitahukan kepada kami, katanya, Umar bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari Suhail bin Abi Shalih, dari bapaknya, ia berkata, As-Saluli memberitahukan kepadaku dari Ka'b, ia berkata, "Barangsiapa mengucapkan `alhamdulillah' maka itu adalah pujian atas Allah.

4. Ali bin Al Hasan bin Al Kharraz menceritakan kepada kami, katanya, Muslim bin Abdurrahman Al Jarmi menceritakan kepada kami, katanya, Muhammad bin Mus' ab Al Qargasani menceritakan kepada kami dari Mubarak bin Fadhalah, dari Al Hasan, dari Al Aswad bin Sari bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْحَمْدُ ِنَ اللّهِ تَعَالَى , وَلِذَلِكَ أَثْنَيْ عَلَى نَفْسِهِ فَقَالَ : الْحَمْدُ لِلّهِ
"Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah dari pujian kepadaNya, oleh karenanya Dia memuji atas Dzat-Nya sendiri seraya berfirman, alhamdulillah.”

semoga kita selalu mensyukuri semua karunia ALLAH swt yg telah diberikan NYA kepada kita,,,

A7X - So Far Away


Never feared for anything, never shamed but never free 
A life that healed a broken heart with all that it could
Lived a life so endlessly, saw beyond what others see
I tried to heal your broken heart with all that I could
Will you stay? Will you stay away forever?
 
reff..............
How do I live without the ones I love? 
Time still turns the pages of the book its burned 
Place and time always on my mind 
I have so much to say but you're so far away 

Plans of what our futures hold, foolish lies of growing old 
It seems we're so invincible, the truth is so cold
A final song, a last request, a perfect chapter laid to rest 
Now and then I try to find a place in my mind
Where you can stay, you can stay awake forever
 
reff..............
How do I live without the ones I love? 
Time still turns the pages of the book its burned 
Place and time always on my mind 
I have so much to say but you're so far away

Bridge............
Sleep tight, I'm not afraid The ones that we love are here with me 
Lay away a place for me 'Cause as soon as I'm done I'll be on my way 
To live eternally
 
reff.............
How do I live without the ones I love? Time still turns the pages of the book its burned Place and time always on my mind And the light you left remains but it's so hard to stay When I have so much to say and you're so far away
 
I love you, you were ready The pain is strong enough despise ...  But I'll see you when he lets me Your pain is gone, your hands are tied......
So far away .... and I need you to know So far away .... and I need you to, need you to know

Maherzain - Alhamdulillah



I was so far from you
Yet to me you were always so close
I wandered lost in the dark
I closed my eyes toward the signs
You put in my way
I walked everyday
Further and further away from you
Ooooo Allah, you brought me home
I thank You with every breath I take.

Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

I never thought about
All the things you have given to me
I never thanked you once
I was too proud to see the truth
And prostrate to you
Until I took the first step
And that’s when you opened the doors for me
Now Allah, I realized what I was missing
By being far from you.

Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

Allah, I wanna thank You
I wanna thank you for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
And did you give me hope
O Allah, I wanna thank you
I wanna thank You for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
I wanna thank You for bringing me home

Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

Sheila On 7 - Percayakan padaku


Percayakan Padaku :
Intro : Bm F Em D G A# B A# B 2x



 Bm                     E

Saat mata terhalang oleh malam

 G             A      D  C#m Bm

Tidur dan berkembanglah

 Bm                     E

Saat sang pagi kembali menari

 G             A    D

Datanglah dengan hati



Interlude : Bm F Em D G A# B A# B



 Bm                   E

Bila kau ragu pada impianmu

  G         A   D  C#m Bm

Percayakan padaku

Bm                         E

Jalan hidup yang akan engkau tempuh

  G         A   D

Percayakan padaku



Reff :

  D    F#m   E            A              

Tumbuhlah jadi pendampingku

 G   F#m    E              A     D

Seiring malam yang menjemput senja

 D   F#m    E        A

Kekasih percaya padaku

  G    F#m     E           A     D

Kau nyata tercipta tuk disampingku



Interlude : G F#m G F#m G F#m E A D



 F#m                               E

Kau takan pernah tau apa yang kau miliki

     A              D 

Hingga nanti kau kehilangan

 F#m                        E

Maka jangan pernah tinggalkan aku

 A           G   F#m

Kekasih, oh kekasih,.,

 G    F#M

Lagu untukmu

    G A  D

Oh kekasih,.,



Balik ke Reff

Mukjizat Ilmiah dalam Al Qur'an


“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya;
 petunjuk bagi mereka yang bertakwa”
(QS 2:2).
A. Pendahuluan
Al-Qur’an adalah kitab petunjuk dan hidayah bagi manusia dan seluruh makhluk yang bertaqwa di atas bumi ini.  Seluruh alam yang luas beserta isinya dari bumi, laut dan segala isinya akan menjadi kecil dihadapan manusia yang lemah, karena ia telah diberi keistimewaan-keistimewaan seperti kemampuan berpikir untuk mengelola seluruh yang ada dihadapannya. Akan tetapi Allah tidak akan membiarkan manusia tanpa adanya wahyu pada setiap masa, agar mendapat petunjuk dan menjalankan kehidupannya dengan benar. Maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan mu’jizat yang sesuai dengan kecanggihan kaum pada masanya, agar manusia mempercayai bahwa ajaran yang ia bawa datang dari Allah SWT.
Oleh karena akal manusia pada masa pertama perkembangannya lebih dapat menerima mu’jizat yang bersifat materi seperti mukjizat tongkat Nabi Musa yang bisa berubah menjadi ular besar, mukjizat Nabi Isa dapat menghidupkan orang yang mati dengan izin Allah, dapat menyembuhkan orang buta maka setiap Rasul pun diutus dengan mukjizat yang sesuai dengan kemampuan kaumnya agar mudah diterima. Ketika akal manusia mencapai “kesempurnaannya”, Allah memberikan risalah Muhammad yang kekal kepada seluruh umat manusia yang tidak terbatas pada kaum di masanya saja. Maka mukjizatnya adalah mukjizat yang kekal sesuai dengan kematangan perkembangan akal manusia.
Utusan ini akan dihadapkan dengan ketidakpercayaan sebagaimana yang telah dihadapi oleh semua para rasul. Allah telah mengetahui semua itu, justeru itu, Dia telah memperkuatkan para rasul dengan bantuan daripada-Nya untuk para rasul tersebut, bantuan ini terealisasi di dalam bentuk mukjizat, mengikut apa yang diistilahkan oleh orang ramai dengan mereka menamakannya dengan المعجزة [al-mu’jizah] dan Al-Quran pula telah menamakannya sebagai بَيِّنَةٍ [bayyinah], بُرْهَانٍ [burhan], سُلْطَانٍ [sultan] dan آيَةٍ [ayat]. Semua mukjizat atau keterangan-keterangan tersebut ditegaskan dalam Al Qur’an.
Allah menjadikan keterangan ini sesuai untuk setiap kaum supaya ia menjadi lebih kuat untuk menegakkan bukti kebenaran utusan tersebut, Nabi Musa -عليه السلام-, dimana pada masa itu masyhur dengan ilmu sihir, maka Allah menjadikan mukjizat untuk Nabi Musa -عليه السلام- sesuai dengan ilmu ini.
Mukjizat berasal dari kata Al I’jaz yang artinya melemahkan atau mengalahkan. Menurut Imam As Suyuti, mukjizat dalam pemahaman syara’ adalah kejadian yang melampaui batas kebiasaan, didahului oleh tantangan, tanpa ada tandingan.
Menurut Ibnu Khaldun, mukjizat adalah perbuatan-perbuatan yang tidak mampu ditiru oleh manusia, maka ia dinamakan mukjizat, tidak masuk ke dalam kategori yang mampu dilakukan oleh hamba dan berada diluar standart kemampuan mereka.
Muhammad Kamil Abdush Shamad, menerangkan bahwa mukjizat ada yang bersifat material yang dicerna panca indera namun melawan hukum alam yang ada dan mukjizat yang bersifat rasional, semua direspon oleh daya nalar sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat diambil sebuah pengertian mendasar bahwa mukjizat merupakan kejadian yang luar biasa, melebihi standart kemampuan manusia yang berlaku secara umum.

B. Kemukjizatan Ilmiah
Istilah Al I’jaz Al ‘Ilmiy (kemukjizatan ilmiah) Al Qur’an mengandung makna bahwa sumber ajaran agama tersebut telah mengabarkan kepada kita tentang fakta-fakta ilmiah yang kelak ditemukan dan dibuktikan oleh eksperimen sains umat manusia, dan terbukti tidak dapat dicapai atau diketahui dengan sarana kehidupan yang ada pada jaman Rasulullah saw.
Hubungan antara tanda-tanda kebenaran di dalam Al Qur’an dan alam raya dipadukan melalui mukjizat Al Qur’an (yang lebih dahulu daripada temuan ilmiah) dengan mukjizat alam raya yang menggambarkan kekuasaan Tuhan. Masing-masing mengakui dan membenarkan mukjizat yang lain agar keduanya menjadi pelajaran bagi setiap orang yang mempunyai akal dan hati bersih atau orang yang mau mendengar. Beberapa dalil kuat telah membuktikan bahwa Al Qur’an tidak mungkin datang, kecuali dari Allah. Buktinya tidak adanya pertentangan diantara ayat-ayatnya, bahkan sistem yang rapi dan cermat yang terdapat di alam raya ini juga tidak mungkin terjadi, kecuali dengan kehendak Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan cermat.
Syeikh Abdul Majid Az-Zindani, mengulas tentang mukjizat ilmiah dalam Al Qur’an,
“...Yaitu ilmu uji kaji modern datang dan mendalami kajian-kajian yang luas di dalam pelbagai bidang, dengan bantuan alat-alat yang canggih, dan setelah beberapa pengembaraan yang menjabarkan berserta seangkatan pengkaji, terbentuklah satu bahagian di samping satu bahagian (yang lain) dan apabila fakta tersebut telah siap sempurna, tiba-tiba didapati ianya telah pun dinyatakan di dalam kitab Allah (Al-Quran) sebelum 1400 tahun [yang lalu]. Lalu orang ramai pun mendapat tahu bahawa Al-Quran ini diturunkan dengan ilmu Allah, dan bukannya [datang] dari sisi seorang utusan yang [berada] di zaman .. sebelum 1400 tahun di hari yang tidak ada sebarang perkakas kajian saintifik atau peralatan kajian ..”
Ketika fakta tersebut telah muncul maka akan muncul pula sebuah pertanyaan,
a.      Dapatkah hal ini mejadi sebuah kejadian yang kebetulan bahwa akhir-akhir ini penemuan informasi secara ilmiah dari lapangan yang berbeda yang tersebutkan di dalam al-Quran yang telah turun pada 14 abad yang lalu?
b.      Dapatkah al-Quran ini ditulis atau dikarang Nabi Muhammad SAW atau manusia yang lain?
Dalam buku At Tafkir Faridhah Islamiyah (berpikir sebuah kewajiban Islam), Abbas Mahmud Aqqad menyebutkan dua macam mukjizat yang harus dibedakan, yang pertama mukjizat yang mengarah ke akal, dapat ditemukan oleh siapapun yang ingin mencarinya, mukjizat ini adalah keteraturan gejala-gejala alam dan kehidupan yang tidak berubah berupa sunnatullah.
Yang kedua adalah mukjizat yang berupa segala sesuatu diluar kebiasaan. Mukjizat ini membuat akal manusia tercengang dan memaksanya untuk tunduk dan menyerah.
Hal yang dapat kita jadikan i’tibar dalam mukjizat ilmiah pada Al Qur’an adalah motivasi/dorongan yang kuat bagi manusia untuk selalu memperhatikan ayat-ayatNya (tadabbur). Tentusaja memperhatikannya seiring dengan kemauan untuk memikirkannya dan mengingat penciptanya.
Dari sini pula dengan mengkaji mukjizat ilmiah dalam Al Qur’an mampu menumbuhkan keimanan dan rasa syukur pada Allah sebagaimana pernah disampaikan oleh Prof. Abdul Karim Al Khathib, “Mukjizat Al Qur’an terletak pada kepioniran dalam menyatakan hal-hal yang baru saja ditemukan oleh penilitian ilmiah”.
Kemudian Prof. Al Khathib menerangkan, “Maksud utama kami dalam menganalisis mukjizat Qur’ani adalah menciptakan hubungan yang erat dengan kitab Allah dalam hati seorang muslim. Kami ingin menanamkan iman terhadap Kitab Allah berdasarkan pengetahuan, pemahaman dan perasaan yang murni terhadap ayat-ayat dan kalimat-kalimatNya.
Meskipun demikian, kami menemukan isyarat-isyarat Al Qur’an yang bersifat ilmiah. Hal ini mendapatkan perhatian yang sangat besar dari kalangan para peneliti Eropa. Karena, isyarat yang dikandung Al Qur’an sejak lima belas abad yang lalu ditemukan dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern sekarang.
Meskipun telah banyak bukti-bukti ilmiah tentang kebenaran Al Qur’an, para pemuja materialisme, para sekuler dan para ateis, tentu saja masih terus membantah kebenaran-kebenaran Al Qur’an karena ketakutan akan implikasi mengakui keberadaan Sang Pencipta. Selain itu, mereka selalu melakukan pembenarannya atas bukti-bukti logika (baca: matematis, empiris, biologis, sosiologis) sebagai dasar pijakan postulatnya.
Menurut Muhammad Kamil Abdush Shamad, tujuan dari kajian mukjizat ilmiah Al Qur’an adalah untuk meluaskan cakupan hakikat dari ayat-ayat Al Qur’an, kemudian memperdalam makna-makna yang terkandung di dalamnya sehingga mengakar dalam jiwa dan pemikiran manusia dengan cara mengambil hikmah dari eksplorasi keilmuan kotemporer yang tercakup dalam makna-maknanya. Sedangkan menurut Ibrahim Muhammad Sirsin, bertujuan memperdalam makna-makna melalui proses analisis terhadap variabel-variabel yang detail. Juga melalui perbandingan mendalam terhadap kritikan para pakar yang profesional di bidangnya serta para peneliti alam dan kehidupan dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Kita juga tidak boleh memasukkan dan memaksakan asumsi dan hipotesis ilmiah yang masih berupa bahan perdebatan dan masih diuji diantara para pakar. Karenanya, tidak pantas orang yang mengadopsi asumsi-asumsi ini berusaha memaksakan Al-Qur’an untuk menguatkan teorinya. Sebab, bisa jadi asumsi dan teori mentah itu nanti terbukti tidak benar, lalu akhirnya mengkambinghitamkan Al-Qur’an. Namun hal ini dapat dijelaskan dalam kerangka bahwa:
1.      Tidak ada kontradiksi antara hakikat ilmu pengetahuan dengan hakikat Al Qur’an karena berasal dari satu sumber.
2.      Tafsir ilmu tidak akan mempengaruhi originalitas karena nash tidak mengalami perubahan sesuai teks aslinya. Tafsiran yang diberikan yang akan disalahkan
Sebagaimana ditulis oleh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi dalam kitab Mu’jizah Al Qur’an, dikarenakan Al Qur’an adalah mukjizat maka nashnya harus tetap dan tidak berubah-ubah, kalau tidak maka hilanglah mukjizatnya.
Oleh karena itu, kalau nash tidak secara tegas menunjukkan pada salah satu teori ilmu sains, maka tidak selayaknya bagi kita untuk memaksakannya, baik untuk menetapkan maupun untuk menafikkan. Karena itu kita harus mencari ilmu dari jalannya masing-masing, ilmu astronomi didapatkan dari penelitian, ilmu kedokteran didapat dari hipotesis dan uji coba. Dengan demikian, niscaya Al Qur’an akan selalu terjaga, tidak dipergunakan untuk memperdebatkan teori ini, yang mana semua teori ini bisa diterima juga bisa ditolak serta bisa pula diganti, sebagaimana juga tidak layak bagi seseorang yang tidak mengetahui hakikat ilmu tertentu untuk menolak mentah-mentah selagi tidak secara tegas bertentangan dengan nash yang shohih.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kesalahan pada manusia dalam menulis kitab bisa saja terjadi, seperti apa yang telah dikatakan oleh Al Qodhi Al Fadhil Abdur Rahim bin Ali Al Baisani, “ Saya melihat bahwasanya tidak ada seorangpun yang menulis sebuah kitab kecuali besoknya dia akan berkata : ‘Seandainya tempat ini diubah niscaya akan lebih baik, seandainya ditambah dengan begini maka akan lebih bagus, seandainya ini dikedepankan niscaya akan lebih utama, dan seandainya yang ini dibuang niscaya akan lebih indah.’ Ini semua adalah dasar yang paling kuat bahwa manusia adalah makhluk yang serba kurang.”
Dari sisi lain bahwa pemahaman baru terhadap ayat itu tidak boleh membatalkan pemahaman lama. Dengan ungkapan lain, kita tidak layak menuduh umat sejak jaman sahabat, bahkan sejak jaman Nabi saw, salah dalam memahami satu ayat, kemudian mengklaim bahwa yang benar adalah pemahaman yang dimiliki si penafsir baru itu. Selayaknya dikatakan, makna baru ini merupakan tambahan yang digabungkan dengan pemahaman lama, dan bukan membatalkannya. Sebab diantara keistimewaan Al-Qur’an, keajaiban-keajaibannya tidak pernah habis tergali.
Kemukjizatan ilmu pada Al Qur’an memang tidak memposisikan Al Qur’an sebagai kitab sains. Namun dapat memberikan isyarat atau petunjuk untuk melakukan kajian lebih jauh terhadap pengembangan sains.
Isyarat ilmiah dalam Al Qur’an mengandung prinsip-prinsip/kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan di setiap jaman dan kebudayaan. Hal ini membawa maksud bahwa :
-           Ayat yang memberikan isyarat tidak harus terperinci, sehingga para ilmuwan bisa mengkajinya atau memperinci dengan melakukan penelitian.
-           Mukjizat ilmiah Al Qur’an tidak hanya untuk waktu tertentu saja yaitu ketika terjadi penentangan, namun berlaku juga ke masa yang akan datang.
            Pada satu masa beberapa mukjizat dirasa kurang masuk akal atau bertentangan dengan nalar dan logika. Tetapi kapasitas nalar dan intelektual yang dimiliki tidaklah sama, tergantung pada daya pikir seseorang.
C. Penutup
Dapat disimpulkan bahwa mukjizat ilmiah pada Al Quran dapat memperkuat keimanan terhadap Al Qur’an sebagai wahyu Allah. Kalaupun terdapat pertentangan sesungguhnya lebih terletak pada jangkauan penafsiran atau teknologi yang mendukung eksplorasi sains. Dari pendekatan arah yang lain mukjizat ilmiah yang ada pada Al Qur’an dapat memberikan motivasi dan memberikan isyarat bagi pengembangan sains. Walaupun tentusaja harus dilakukan dengan cermat dan menyeluruh serta didasari dengan kaidah penafsiran yang benar.

QS Al Baqarah : 2
disampaikan oleh al-Qattan, diambil dari http://layananquran.com/plq/index.php
Disampaikan oleh Syeikh A M Az-Zindani pada sebuah kajian yang bertajuk Keajaiban Saintifik Di Dalam Al-Quran,2002. Az-Zindani Merupakan rektor Universiti Al-Iman-Yaman  & Pengasas Jabatan Tanda-tanda Saintifik di dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang berada di bawah Liga Islam Sedunia di Mekah diambil dari http://www.geocities.com/permaya02/pendahuluanz.htm
QS. Al Hadid : 25
QS. Thaha : 58
dalam kitab Al Itqam fi Ulum Al Qur’an, diambil dari buku Dimensi Sains Al Qur’an
dalam Muqaddimah, terjemahan
dalam Al I’jaz Al ‘Ilmiy fil Qur’anul Karim (Mukjizat Ilmiah dalam Al Qur’an)
Prof.Dr.Ahmad Fuad Pasya dalam buku Dimensi Sains Al Qur’an, terjemahan dari buku Rahiq Al-Ilmi wa Al-Iman, hal.23
Ibid
Disampaikan oleh Syeikh A M Az-Zindani pada sebuah kajian yang bertajuk Keajaiban Saintifik Di Dalam Al-Quran, 2002.
AL-REHAILI, Abdullah M.,Bukti Kebenaran Quran , hal 4
QS. Fathir : 43
Prof.Dr.Ahmad Fuad Pasya dalam buku Dimensi Sains Al Qur’an, hal. 24
QS. Shaad : 29
QS. Ali Imran : 191
ibid
Tono Saksono, Ph.D dalam buku Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya, hal. 15
Al I’jaz Ilmi fi Islam Al Quranul Karim, terjemahan
dalam majalah Al ‘Arabiyyah, edisi Januari 1982
Yusuf Qardhawi dalam buku Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan
Muh. Kamil Abdushshamad dalam buku Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an, hal. 7
Hal ini juga disampaikan oleh prof. Muh. Adduwais dalam kuliah interdisiplinir tentang metodologi penelitian studi Islam kontemporer di kampus UMS,2007
Muh. Kamil Abdushshamad dalam buku Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an, hal. 8
Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi dalam Adhwa’ul Bayan fi Tafsiril Qur’ani bil Qur’an
  Dalam kitab Al-I’lam bi A’lamil Baladil Harom (dari buku Matahari Mengelilingi Bumi)
  Yusuf Qardhawi dalam buku Al-Qur’an Berbicara tentang Akal
 QS. Al Baqarah : 143
  Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi dalam kitab Mu’jizah Al Qur’an (dari buku Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an)
  QS. Surat Fushshilat : 53
Gulen, M. Fethullah,2002,Essential of The Islamic Faith, hal. 226
      Gulen merupakan pemikir dari Turkey yang dalam bukunya menawarkan gagasan adanya penggabungan pencerahan intelektual dengan spirituil khususnya bagi genenrasi muda

-------------------------------------------

PUSTAKA
Al-Qur’an
Abdushshamad, Muhammad Kamil. 2004. Al-I’jazul Ilmi fil-Qur’anil-karim,terj: Mukjizat Ilmiah Dalam Al-Qur’an, Jakarta: Akbar
Al-Rehaili, Abdullah M.,Bukti Kebenaran Quran , Yogyakarta: Tajidu Press, 2003
Bucaille, Maurice Dr, 1976, La Bible Le Coran Et La Science, terj: Bibel, Alqur’an dan Science Modern,Penerbit bulan Bintang,Jakarta
Gulen, M. Fethullah,2002,Essential of The Islamic Faith,The Fountain,Turkey
http://layananquran.com/plq/index.php,2008
http://www.media-islam.or.id,2008
Khaldun, Ibn. 2005. Muqaddimah, Jakarta: Pustaka Firdaus
Pasya, Ahmad Fuad. Prof, 2004. Rahiq Al’Ilmi wa Al-Iman,terj:Dimensi Sains Al-Qur’an, Tiga Serangkai, Solo
Qardhawi, Yusuf DR. 1996. Al-Aqlu wal-Ilmu fil-Quranil-Karim,terj.:Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta : Gema Insani Pers
Saksono, Tono. 2006. Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya, Pustaka Darul Ilmi, Bekasi
Asy-Syinqithi, Syaikh Muhammad Amin, Adhwa’ul Bayan fi Tafsiril Qur’ani bil Qur’an,-
Turner, Horwad R, 1997, Science in medieval Islam, An Ilustrated Introduction, University of Texas Press,Texas